Pi (http://en.wikipedia.org/wiki/Pi) is the Greek letter that stands for the ratio of the circumference (distance around) of a circle to its diameter (width).
Pi is an irrational number, which means that it can't be expressed as a fraction. That also means that its decimal representation never ends or repeats - it continues on, and on, and on. Forever.
Pi Day is held to celebrate the mathematical constant ? (pi) (in the mm/dd date notation: 3/14); since 3, 1 and 4 are the first three digits of ?.
Sometimes Pi Minute is also celebrated; this occurs on March 14 at 1:59 p.m. If ? is truncated to seven decimal places, it becomes 3.1415926; making March 14 at 1:59:26 p.m., Pi Second (or sometimes March 14, 1592 at 6:53:58 a.m.).
Here's the first few hundred digits of ? (pi):
3.1415926535897932384626433832795028841971693993751058209749445923078164
062862089986280348253421170679821480865132823066470938446095505822317253
594081284811174502841027019385211055596446229489549303819644288109756659
334461284756482337867831652712019091456485669234603486104543266482133936
072602491412737245870066063155881748815209209628292540917153643678925903
600113305305488204665213841469519415116094330572703657595919530921861173
819326117931051185480744623799627495673518857527248912279381830119491298
336733624406566430860213949463952247371907021798609437027705392171762931
767523846748184676694051320005681271452635608277857713427577896091736371
787214684409012249534301465495853710507922796892589235420199561121290219
608640344181598136297747713099605187072113499999983729780499510597317328
160963185950244594553469083026425223082533446850352619311881710100031378
387528865875332083814206171776691473035982534904287554687311595628638823
537875937519577818577805321712268066130019278766111959092164201989380952
572010654858632788659361533818279682303019520353018529689957736225994138
912497217752834791315155748572424541506959508295331168617278558890750983
817546374649393192550604009277016711390098488240128583616035637076601047
101819429555961989467678374494482553797747268471040475346462080466842590
694912...
Source by googling
14 Maret 2010
Happy Pi Day - March 14, 2010
Diposting oleh
agung
di
22.04
0
komentar
Label: Iptek
22 Februari 2010
Belajar Bijaksana dari Filosofi Wayang Bhimasena
Delapan orang remaja berumur sekitar 15 tahunan terlihat sedang mengerumuni sebuah etalase kaca besar yang di dalamnya terdapat beberapa koleksi wayang bertahtakan batu intan.
Sesekali mereka mengangguk-anggukkan kepala sambil melihat tulisan yang dicantumkan di samping rak pajangan. "Pengunjung memang selalu nampak tersihir dengan uniknya koleksi-koleksi wayang di sini," kata Kepala Museum Wayang, Dachlan.
Ia menyatakan memang sudah seharusnya generasi muda menghargai karya negeri sendiri terutama yang bersifat tradisional dan diwariskan nenek moyang secara turun temurun.
Namun, ia juga menyayangkan masih banyak masyarakat terutama golongan muda yang berpikir wayang hanyalah sejenis pertunjukan seni tradisional Indonesia yang bersifat hiburan. "Padahal karakter wayang sendiri juga mengandung nilai petuah yang bagus untuk dijadikan pegangan hidup manusia," katanya.
Jika ditelaah lagi, katanya, setiap tokoh wayang memiliki cerita sendiri dan pesan moral yang ditonjolkan juga banyak. Ia memberi contoh tokoh Bhima, salah satu karakter dalam Pandawa Lima dari cerita wayang Ramayana. Nama Bhima yang juga disebut Werkudara itu memiliki arti proses menahan napas.
Dalam pewayangan hal tersebut juga bisa diartikan orang yang mampu menahan segala godaan dalam hidup. Namun, untuk mencapai tahapan tersebut, seseorang harus mengalami berbagai macam ujian.
Pada kisah Bhima di lakon yang berjudul Dewaruci, diceritakan ia diperintahkan gurunya, Resi Dorna, untuk mencari sebuah inti air suci bernama Banyu Perwita Sari di dasar lautan.
Untuk mencari mata air tersebut, Bhima harus masuk ke dalam samudera dan mengalahkan raksasa Rukmuka dan Rukmukala yang mencoba menghentikan misinya. Bhima juga harus menghadapi naga raksasa sebelum akhirnya ia bertemu dengan Dewaruci dan mendapatkan nasehat-nasehat tentang hidup. Dia akhirnya menjadi lebih arif dalam menjalani hidupnya.
"Jika dianalisa lebih jeli, musuh-musuh adik Puntadewa dalam cerita itu sebenarnya adalah representasi dari godaan yang selalu ada dalam kehidupan manusia sedangkan kemenangan Bhima adalah suatu bukti bahwa manusia jika berusaha dengan sungguh-sungguh akan mencapai keinginannya walaupun masalah menghadang," katanya.
Hal yang bisa dipetik dalam cerita Bhima tersebut adalah bahwa setiap manusia memang harus menghadapi ujian dan godaan dulu barulah mendapatkan makna hidup yang sesungguhnya.
Simbol
Selain kisah Bhima yang bisa dijadikan inspirasi bagi kehidupan manusia, pakaian dan aksesoris yang dikenakan tokoh ini pun juga sarat makna.
Bhima pada cerita Dewaruci dikisahkan membawa senjata Gada Rujakpolo. Kata Polo secara harfiah berarti otak sedangkan arti tersiratnya adalah bahwa untuk memecahkan dan menguasai segala cita-cita, pandangan hidup dan mengembangkannya harus mempergunakan otak.
Tokoh yang diilustrasikan sebagai orang kuat ini juga mengucapkan semacam mantra yang dinamakan Aji Bandung Bandawasa Gandamana yang artinya bahwa sekeliling tubuhnya dari rambut sampai telapak kaki, diikat oleh penguasa yakni Tuhan Yang Maha Esa. Dengan kuasa Tuhan, Bhimasena bisa hidup disertai pikiran yang bisa menyaring mana yang baik dan buruk.
Sementara itu, Pancanaka, kuku tangan Bhima yang digunakan sebagai senjata juga bisa diartikan bahwa manusia harus menggunakan kedua tangannya yang masing-masing berjari lima untuk mencapai semua tujuan hidupnya.
Bhima juga digambarkan memakai gelang Candra Kirana yang berbentuk bulan dan bintang. Bulan menurut kepercayaan masyarakat adalah benda langit yang mengeluarkan cahaya yang lembut dan mampu memekarkan kuncup bunga sedangkan bintang banyak dipergunakan sebagai patokan bagi manusia untuk kepentingan pertanian, mencari ikan di laut,menentukan arah dan juga lambang ketinggian martabat dalam karir.
Dalam hal ini, Bhima digambarkan mampu memberikan masyarakat suasana sejuk, mengarahkan mereka ke jalan yang benar dan mampu meninggikan derajat manusia lainnya.
Anting-anting Bhima yang dinamakan Kembang Manggis memiliki arti sendiri. Jika dilihat helaian bunga manggis yang terletak di luar kulit buah tersebut ternyata jumlahnya selalu sama dengan jumlah isi manggis.
Hal ini berarti Bhima hanya mau mendengarkan sesuatu yang benar. Sekalipun hal yang didengar terasa pahit seperti kulit Manggis, tetapi bila di dalamnya mengandung kebenaran maka akan tetap manis pada akhirnya.
"Makna-makna seperti itulah yang dibutuhkan manusia sebagai patokan dalam hidupnya. Sudah selayaknya masyarakat mengambil contoh dari sikap dan nasehat-nasehat yang diilustrasikan dalam tokoh wayang ke kehidupan sehari-hari mereka," kata Dachlan.
Sumber: Googling
Diposting oleh
agung
di
17.21
0
komentar
Label: Renungan

RSS Feed (xml)